Women’s Leadership Part 2: Choose To Challenge Ourselves and The Society at The Same Time

Photo by Rebrand Cities on Pexels.com

#choosetochallenge adalah hashtag yang dipergunakan International Women’s Day Community untuk memperingati Hari Perempuan Internasional di tahun 2021. Umumnya kita para perempuan berpikir bahwa tantangan ini bersifat satu arah ke luar, seperti menolak perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan, menentang perlakuan yang bersifat harassment / pelecehan terhadap perempuan seperti cat-calling atau komentar terhadap tubuh perempuan. Tetapi ternyata #choosetochallenge ini jika digali lebih dalam sebenarnya bersifat dua arah: ke luar dan ke dalam.

Di bulan Maret 2021 lalu saat saya hadir sebagai moderator di dalam sebuah acara online untuk komunitas internal yang menghadirkan tiga narasumber perempuan yang sudah berkarir puluhan tahun di bidangnya, yang seringkali harus berurusan dengan para pria, terungkap beberapa fakta yang penting untuk diketahui para perempuan. Acara tersebut membahas bagaimana kita perempuan bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan pria untuk mengembangkan karir kita. Nomor satu pastinya kita bukan hanya menyuarakan ketidakadilan dalam bentuk protes atau komplen saja tetapi mari kita introspeksi dahulu ke diri sendiri dan mencari tahu apa saja kelebihan dan kekurangan kita dan melihat apa kelebihan dan kekurangan para pemimpin pria di luar sana. Sama seperti di dalam ilmu marketing, esensinya bagaimana kita perempuan bisa memasarkan kemampuan/ keahlian kita sehingga kita bisa unggul dari kompetitor kita. Bagaimana kita bisa menonjolkan kelebihan kita dan memperbaiki kelemahan kita menjadi lebih baik.

Recently updated research shows that women in leadership positions are perceived as being every bit as effective as men. In an analysis of thousands of 360-degree assessments, women were rated as excelling in taking initiative, acting with resilience, practicing self-development, driving for results, and displaying high integrity and honesty. In fact, they were thought to be more effective in 84% of the competencies that we most frequently measure. Men were rated as being better on two capabilities: “develops strategic perspective” and “technical or professional expertise.” However, a different analysis of the same data showed that when women are asked to assess themselves, they are not as generous in their ratings. In fact, they have lower scores than men on confidence ratings, especially when they’re under 25. At age 40, the confidence ratings merge. Men gain just 8.5 percentile points in confidence from age 25 to their 60+ years. Women, on the other hand, gain 29 percentile points. Women make highly competent leaders, according to those who work most closely with them — and what’s holding them back is not lack of capability but a dearth of opportunity.

https://hbr.org/2019/06/research-women-score-higher-than-men-in-most-leadership-skills

Dari hasil penelitian yang dibuat Zenger/Folkman, sebuah konsultan pengembangan kepemimpinan yang dipublikasikan di artikel Harvard Business Review di atas terlihat bahwa pemimpin perempuan sama efektifnya dengan pemimpin pria. Bahkan pada 84% kompetensi yang diukur terlihat perempuan lebih unggul dan ada beberapa kompetensi yang sangat menonjol pada perempuan yaitu pada pengambilan inisiatif, kemampuan untuk bangkit lagi dari sebuah hantaman (bounce back), upaya untuk mengembangkan diri sendiri, dorongan untuk mencapai hasil, serta integritas tinggi dan kejujuran. Masih ditambah lagi dengan karakter perempuan yang saya bahas di tulisan sebelumnya yaitu empati, transparansi, serta membangun hubungan yang engaging. Namun kekurangan pemimpin perempuan saat ini masih lebih disebabkan kurangnya kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk memimpin yang juga disebabkan oleh masih adanya unconcisous bias (anggapan/prasangka yang keliru yang tidak disadari) terhadap perempuan.

Kembali lagi ke #choosetochallenge ternyata ada beberapa karakter perempuan yang perlu di challenge lebih lanjut oleh diri kita sendiri jika kita hendak memposisikan diri kita setara dengan para pemimpin pria di luar sana.

confidence

Dari penelitian di atas terlihat perempuan masih berjuang dalam isu kepercayaan diri. Hal ini bukan berarti perempuan minder melainkan lebih pada sebuah situasi jika seorang perempuan harus meyakinkan banyak pria di hadapannya di dalam sebuah presentasi atau meeting misalnya, mereka biasanya sudah punya pikiran yang melemahkan diri sendiri seperti “aduh nanti kalau aku tidak bisa jawab gimana?”, “aduh nanti kalau aku bicara seperti ini aku dibilang sok lagi atau takut si A tersinggung”, “aduh mendingan diam saja deh daripada jadi sorotan.” Hal-hal inilah yang seringkali membuat pemimpin perempuan jadi terlihat kurang percaya diri dan kurang berani speak up / kalah bicara dibandingkan para pria. Dalam acara online Maret lalu kita sepakat bahwa perempuan memang harus melakukan hal-hal ekstra jika ingin berkembang dalam karirnya. Kerja keras lebih ekstra untuk menguasai semua bahan presentasi atau bidang pekerjaan yang ia pimpin dan mengasah kemampuan berpikir strategis dan analitisnya. Banyak membangun hubungan dengan orang-orang di sekeliling terutama dengan para pria untuk memelajari cara berpikir mereka juga. Semua ini jika dilakukan dengan tepat akan sangat membantu membangun kepercayaan diri perempuan. Cause you know very well what you are doing and what you are saying and you are the expert on what you do. Be confident!

ASSERTIVE

Menjadi seorang yang asertif erat kaitannya dengan Confidence. Orang yang asertif adalah orang yang memiliki kepercayaan diri dan dapat mengungkapkan apa yang dia pikirkan dengan cara yang positif sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai. Pemimpin perempuan perlu memiliki kompetensi untuk berkomunikasi secara terbuka, dapat menghargai diri sendiri dan orang lain, dan mampu menyatakan pendapat pribadi dengan lugas dan tegas, mampu mempertahankan apa yang dia percaya ‘benar’ dan tahu bagaimana mengatakan ‘tidak’ dengan cara yang tepat tanpa menyinggung perasaan orang lain. Kompetensi ini bukan bawaan lahir yang dimiliki semua orang secara instan alias perlu dilatih. Sikap asertif ini erat kaitannya dengan keberanian untuk speak up, berargumentasi/berpendapat yang mengalahkan rasa sungkan tapi bukan agresif. Sikap asertif lainnya juga bisa berupa meminta kesempatan atau mengajukan diri untuk memimpin sebuah projek misalnya – seize the opportunity. Semakin sering perempuan menunjukkan sikap asertifnya semakin banyak kesempatan untuk kita merubah lingkungan sosial kita yang membuat kesempatan untuk perempuan berkembang juga semakin terbuka. Every woman can train herself to be assertive!

manage emotions

Jangan ‘baper’! Salah satu kunci dari kesuksesan seorang pemimpin adalah dia tidak membiarkan perasaannya mempengaruhi keputusannya maupun profesionalitasnya sebagai pemimpin. Don’t let your feelings cloud your judgments! Emosi adalah bagian dari hidup manusia. Jadi hanya robot yang tidak bisa marah. Ajaibnya jika pemimpin pria marah orang melihatnya sebagai ‘killer’ dan jarang yang memberikan komentar lebih lanjut, tapi jika seorang pemimpin perempuan marah orang banyak menggunakan istilah “judes/jutek”, “bossy”, “terlalu emosional”. Ini saja sudah merupakan sebuah challenge tersendiri bagi para pemimpin perempuan. Manage emosi kita, jika deadline dilanggar karena anggota team lalai menyelesaikan tugasnya tanpa alasan yang masuk akal dan mengakibatkan dampak terhadap pencapaian target wajar kalau kita tegur dengan sedikit keras alias marah dalam batas wajar. Jika anggota team datang terlambat ke kantor 30 menit dari jadwal masuk kantor untuk pertama kalinya tentu kita tidak perlu marah cukup menanyakan apa sebabnya dan mengingatkan agar tidak mengulangi lagi secara baik-baik. Intinya choose your reaction wisely! Di sisi lain, jika dalam sebuah meeting ada kolega kita terutama pria memancing emosi kita dengan menentang ide kita bahkan sampai merendahkan, kontrol emosi kita dan lawan dengan data. Dengan data dan fakta yang cukup kita bisa menang dalam sebuah argumentasi selama terkait bisnis bukan personal. Kadang di dalam sebuah meeting kita bisa mundur selangkah, untuk kemudian mengatur ulang strategi dan meraih kemenangan lewat pendekatan yang berbeda. Jika sudah masuk ranah personal kita berhak berkata dengan tegas bahwa kita tidak suka dengan perkataan tersebut dan ini sudah diluar konteks meeting dan merupakan komentar personal. Sepanas apapun diskusi yang terjadi, setajam apapun komentar yang kita terima baik dari pimpinan kita atau kolega kita selalu cari inti pesan yang ingin disampaikan, jika memang pesannya menuntut kita merubah strategi kita lakukanlah karena siapa tau komentar tersebut ada unsur baiknya. Jangan terlalu lama memikirkan setiap perkataan tajam yang dilontarkan, jangan terlalu analisa berlebihan diri sendiri atau terbawa perasaan terlalu lama. Belajarlah dari para pria yang umumnya keluar dari ruangan meeting bersikap seakan-akan tidak terjadi apapun di ruangan tersebut, atau minimal 30 menit kemudian sudah move on!

Ini hanya 3 karakteristik dari beberapa hal lainnya yang menjadi tantangan bagi kita perempuan agar kita bisa menjadi pemimpin yang lebih baik. Percayalah, where there’s a will there’s a way! Perempuan pasti bisa menjadi pemimpin yang sama kualitasnya dengan para pria.

Women’s Leadership Part 1: We Need More Women Leaders in This Fast Changing World

Dunia berubah sangat cepat sepanjang lebih dari 1 dekade ini ditandai dengan munculnya smart phone dengan berbagai macam aplikasi pintarnya, situs dan aplikasi belanja online, munculnya aplikasi ojek online, yang pada awalnya hanya dinikmati oleh orang berusia 40 tahun ke bawah hingga lambat laun mulai dinikmati manfaatnya sampai dengan orang berusia 80 tahun dan masih banyak perubahan lainnya yang di tahun 90-an tidak pernah terpikir akan ada. Puncak perubahan dunia ini yang paling dahsyat sampai saat tulisan ini dibuat paling tidak menurut saya adalah serangan virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19 di tahun 2020 lalu yang masih berlangsung sampai 2021. Semua perubahan ini menyebabkan manusia harus belajar menghadapi hal yang baru, yang bisa beradaptasi akan bisa bertahan bahkan menikmati kebiasaan atau gaya hidup yang baru. Perubahan ini juga menuntut cara berpikir yang baru, cara yang berbeda dengan sebelumnya.

Bicara masalah perbedaan cukup menggelitik untuk dibahas dari sudut pandang perempuan karena perempuan umumnya mengalami perlakuan yang berbeda dibanding pria. Namun pembahasan kali ini lebih berfokus kepada tema yang diumumkan oleh United Nation Women pada 8 Maret 2021 dalam rangka International Women’s Day yaitu, “Women in Leadership: Achieving An Equal Future in A COVID-19 World” atau kepemimpinan perempuan untuk mencapai kesetaraan di masa depan di dunia yang sedang terkena pandemi covid-19 ini serta hashtag atau tagar yang dicanangkan situs International Women Day yaitu #choosetochallenge atau dengan kata lain perempuan didorong untuk memilih sikap menolak/mengkonfrontasi atau tidak menerima jika ada perlakuan yang berbeda yang diterimanya.

Perbedaan kepemimpinan perempuan mulai disorot setelah pandemi ini terjadi, mulai dari media luar negeri seperti Bloomberg, New York Times, BBC sampai media lokal seperti Kompas memberitakan tentang kesuksesan pemimpin negara perempuan yang berhasil mengatasi pandemi di negara mereka sehingga jumlah kasus bisa ditekan ke level minimal. Jacinda Ardern, Perdana Menteri New Zealand adalah salah satu contoh pemimpin perempuan yang berhasil menekan kasus pandemi covid-19 hingga angka korban yang meninggal hanya mencapai 26 orang saja sampai dengan Maret 2021. Apa sebabnya? Beberapa karakteristik yang menonjol dalam kepemimpinan perempuan yang terlihat dari semua pemberitaan yang ada yaitu adanya: transparency (keterbukaan baik dalam menerima maupun menyampaikan informasi), empathy “put people first”(dalam hal ini naluri melindungi warganegaranya), dan sudut pandang yang berbeda seperti yang dikatakan seorang professor dari Harvard Business School di bawah ini.

Women leaders can bring fresh perspective to economic policy, experts say. “When you’re different from the rest of the group, you often see things differently,” said Harvard Business School professor Rebecca Henderson, author of Reimagining Capitalism In A World On Fire.

https://www.straitstimes.com/business/women-are-running-and-trying-to-fix-the-us-economy

Pemimpin perempuan dinilai lebih terbuka untuk mendengarkan banyak masukkan dari banyak pihak, lebih mempertimbangkan banyak faktor-faktor untuk kepentingan orang banyak terutama yang lebih lemah, dan terbuka pada solusi-solusi yang berbeda. Pemimpin perempuan juga bisa menyampaikan informasi dengan lebih terbuka dan tulus dengan bahasa yang mengundang simpati atau mengajak audiens ikut terlibat di dalamnya (engaging).

Kehadiran pemimpin perempuan diharapkan bisa memberikan sudut pandang berpikir yang baru atau perspektif yang berbeda baik itu dalam bidang ekonomi maupun lainnya sehingga bisa memunculkan kebijakan atau kegiatan baru yang menyentuh aspek yang selama ini belum tersentuh oleh para pemimpin pria. Itulah sebabnya dibutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan di masa mendatang untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi.

“When women are involved, the evidence is very clear: Communities are better, economies are better, the world is better,” Dr Georgieva said in January, citing research compiled by the IMF and other institutions.