

Dunia berubah sangat cepat sepanjang lebih dari 1 dekade ini ditandai dengan munculnya smart phone dengan berbagai macam aplikasi pintarnya, situs dan aplikasi belanja online, munculnya aplikasi ojek online, yang pada awalnya hanya dinikmati oleh orang berusia 40 tahun ke bawah hingga lambat laun mulai dinikmati manfaatnya sampai dengan orang berusia 80 tahun dan masih banyak perubahan lainnya yang di tahun 90-an tidak pernah terpikir akan ada. Puncak perubahan dunia ini yang paling dahsyat sampai saat tulisan ini dibuat paling tidak menurut saya adalah serangan virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19 di tahun 2020 lalu yang masih berlangsung sampai 2021. Semua perubahan ini menyebabkan manusia harus belajar menghadapi hal yang baru, yang bisa beradaptasi akan bisa bertahan bahkan menikmati kebiasaan atau gaya hidup yang baru. Perubahan ini juga menuntut cara berpikir yang baru, cara yang berbeda dengan sebelumnya.
Bicara masalah perbedaan cukup menggelitik untuk dibahas dari sudut pandang perempuan karena perempuan umumnya mengalami perlakuan yang berbeda dibanding pria. Namun pembahasan kali ini lebih berfokus kepada tema yang diumumkan oleh United Nation Women pada 8 Maret 2021 dalam rangka International Women’s Day yaitu, “Women in Leadership: Achieving An Equal Future in A COVID-19 World” atau kepemimpinan perempuan untuk mencapai kesetaraan di masa depan di dunia yang sedang terkena pandemi covid-19 ini serta hashtag atau tagar yang dicanangkan situs International Women Day yaitu #choosetochallenge atau dengan kata lain perempuan didorong untuk memilih sikap menolak/mengkonfrontasi atau tidak menerima jika ada perlakuan yang berbeda yang diterimanya.
Perbedaan kepemimpinan perempuan mulai disorot setelah pandemi ini terjadi, mulai dari media luar negeri seperti Bloomberg, New York Times, BBC sampai media lokal seperti Kompas memberitakan tentang kesuksesan pemimpin negara perempuan yang berhasil mengatasi pandemi di negara mereka sehingga jumlah kasus bisa ditekan ke level minimal. Jacinda Ardern, Perdana Menteri New Zealand adalah salah satu contoh pemimpin perempuan yang berhasil menekan kasus pandemi covid-19 hingga angka korban yang meninggal hanya mencapai 26 orang saja sampai dengan Maret 2021. Apa sebabnya? Beberapa karakteristik yang menonjol dalam kepemimpinan perempuan yang terlihat dari semua pemberitaan yang ada yaitu adanya: transparency (keterbukaan baik dalam menerima maupun menyampaikan informasi), empathy “put people first”(dalam hal ini naluri melindungi warganegaranya), dan sudut pandang yang berbeda seperti yang dikatakan seorang professor dari Harvard Business School di bawah ini.
Women leaders can bring fresh perspective to economic policy, experts say. “When you’re different from the rest of the group, you often see things differently,” said Harvard Business School professor Rebecca Henderson, author of Reimagining Capitalism In A World On Fire.
https://www.straitstimes.com/business/women-are-running-and-trying-to-fix-the-us-economy
Pemimpin perempuan dinilai lebih terbuka untuk mendengarkan banyak masukkan dari banyak pihak, lebih mempertimbangkan banyak faktor-faktor untuk kepentingan orang banyak terutama yang lebih lemah, dan terbuka pada solusi-solusi yang berbeda. Pemimpin perempuan juga bisa menyampaikan informasi dengan lebih terbuka dan tulus dengan bahasa yang mengundang simpati atau mengajak audiens ikut terlibat di dalamnya (engaging).
Kehadiran pemimpin perempuan diharapkan bisa memberikan sudut pandang berpikir yang baru atau perspektif yang berbeda baik itu dalam bidang ekonomi maupun lainnya sehingga bisa memunculkan kebijakan atau kegiatan baru yang menyentuh aspek yang selama ini belum tersentuh oleh para pemimpin pria. Itulah sebabnya dibutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan di masa mendatang untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi.
“When women are involved, the evidence is very clear: Communities are better, economies are better, the world is better,” Dr Georgieva said in January, citing research compiled by the IMF and other institutions.