Every Woman is Multifaceted (Setiap Perempuan Memiliki Berbagai Segi)

Photo by Antonio Dillard on Pexels.com

“Every woman is multifaceted. Every woman has a switch, whether she’s going to be maternal, whether she’s going to be a man-eater, whether she has to kick ass, whether she has to be one of the boys, whether she has to show the guys that she’s just as smart or smarter, she’s just as talented or creative. Women suppress a lot of their sides” — Nicki Minaj

Sosok Nicki Minaj memang terlihat nyentrik dengan gayanya yang eksentrik mulai dari cara berpakaian dan warna rambutnya yang menyala. Saya juga bukan penggemar berat rapper satu ini cuma pernah dengar beberapa lagunya yang cukup ngetop. Namun pernyataannya di atas ini cukup menangkap perhatian dan menggelitik saya untuk membahas lebih lanjut.

Setuju, menurut saya perempuan itu memiliki berbagai segi kehidupan. Perempuan itu memerankan lebih dari 2 peranan dalam hidupnya yang disebut multifaset dan perempuan selalu berusaha memastikan setiap peran ia perankan dengan sebaik-baiknya layaknya seorang badut pemain sirkus yang melempar 4 bola ke udara dan menangkapnya bergantian dan memastikan tidak ada satupun bola yang jatuh ke tanah. Bedanya dalam kehidupan nyata bola ini adalah seperti bola kristal yang jika jatuh akan pecah berantakan.

Berapa banyak dari perempuan yang memerankan peranan sebagai: istri, ibu untuk anak-anaknya, perempuan yang bekerja / pengusaha, manajer rumah tangga, putri dari orang tuanya? Tambahan lagi peran sebagai manajer keuangan keluarga jika seluruh manajemen keuangan keluarga diserahkan penuh kepada sang istri, serta peranan lainnya yang seringkali tidak diberikan label: juru masak keluarga, sopir pribadi anak-anak, party dan document organizer. Saya yakin pasti banyak yang acung jari dan berkata “ini saya banget!”

Coba bayangkan tanpa peranan manajer rumah tangga, waktu mau masak, ehhh minyak habis, bawang habis……, perempuan memastikan persediaan kebutuhan rumah tangga selalu ada di dalam lemari saat dibutuhkan. Jika perempuan tidak berperan sebagai pengatur dokumen atau barang-barang yang baik apa yang terjadi jika anak bertanya “Ma, dasi saya dimana ya?, Ma, buku saya yang itu kok gak ada ya?, Ma, dokumen kantor Papa yang kemarin dimana ya? Ma, kacamata Papa dimana ya?”. Serta pada umumnya jika orang tua kita yang sudah usia lanjut membutuhkan pertolongan, sewajarnya kita sebagai putri mereka yang membantu mereka baik itu memasak untuk mereka atau menemani mereka ke dokter (ada juga anak laki-laki yang berperan aktif seperti ini tetapi mayoritas sih masih perempuan). Perempuan berusaha memainkan semua peranan ini dengan seimbang namun tentu saja karena perempuan bukan wonder woman atau supergirl, mereka punya keterbatasan.

Perempuan khususnya ibu rumah tangga bisa mengalami kelelahan secara fisik. Bayangkan dari subuh mereka sudah bangun untuk menyiapkan sarapan keluarga, berlanjut dengan mencuci dan menjemur pakaian yang sudah menumpuk dari hari sebelumnya, menyelesaikan menyetrika pakaian yang sudah kering dari hari sebelumnya, dan tanpa terasa sudah waktunya mereka memasak makan siang untuk keluarga sebelum mereka menjemput anak-anak pulang sekolah (sebagai info semua pekerjaan ini dilakukan kebanyakan sambil berdiri dan bolak-balik atau naik turun tangga lho jika rumahnya dua lantai – kebayang pegalnya kaki dan berapa banyak varises yang muncul di kaki?). Beruntunglah yang memiliki sopir atau menitipkan anak-anaknya pada bis jemputan sekolah.

Seorang perempuan harus siap mengantarkan anak les, membantu anak dengan PR atau ulangan mereka. Di sore harinya mereka harus bersiap-siap untuk memasak makanan untuk makan malam dan menutup harinya dengan mencuci piring kotor dan membersihkan dapur serta merencakan menu masak untuk keesokan harinya. Percayalah rutinitas ini jauh lebih melelahkan secara fisik dibanding perempuan yang bekerja kantoran. Oleh sebab itu perempuan membutuhkan support system / sistim pendukung yang baik. Contoh: jika anak sudah mulai besar bisa melatih mereka untuk mencuci piring kotor, anak laki-laki dan suami bisa membantu menyapu dan mengepel lantai, anak perempuan bisa membantu mencuci atau menyetrika pakaian sesekali. Hal ini selain akan sangat membantu sang ibu, sekaligus melatih kemandirian anak-anak sejak kecil. Tentu saja pendukung berikutnya adalah asisten rumah tangga, jika kita beruntung mendapatkan yang setia dan cekatan.

Bagaimana dengan perempuan yang bekerja di kantor? Situasi mereka memang lebih sedikit nyaman selain 8 jam di ruangan ber-AC, lebih banyak duduk daripada berdiri dan hilir mudik, paling tidak tangan mereka tidak banyak harus bersentuhan dengan deterjen atau sabun pencuci pakaian atau piring yang umumnya membuat tangan jadi kasar. Tetapi mereka tetap harus memerankan peranan sebagai pendidik untuk anak-anak mereka, istri yang baik, manajer rumah tangga, serta putri dari orang tua mereka. Ada kalanya seorang perempuan mengalami tegangan tinggi karena deadline pekerjaan atau kepala berasa panas berasap karena meeting bertubi-tubi yang semuanya membutuhkan pemikiran yang berbeda-beda. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka karena saat di kantor sebagai pemimpin mereka harus ada di depan barisan, mengolah data, dan mengambil keputusan cepat, bahkan harus berkonfrontasi dengan pihak lain jika diperlukan. Namun sesampainya di rumah panas & tegangan di kepala harus dikendorkan dan switch berganti peran sebagai ibu yang sabar menghadapi anak-anak yang kadang bisa membuat ulah yang menguji kesabaran, memantau perkembangan belajar anak di sekolah, menjadi pendengar yang baik bagi mereka.

Sebagai manajer rumah tangga perempuan juga harus bisa mencatat dan meluangkan waktu untuk memastikan kebutuhan rumah tangga selalu tersedia. Belum lagi peranan sebagai istri, menjadi teman diskusi atau pendengar yang baik bagi sang suami. Tidak mudah memerankan semua ini dengan sama baiknya dan seimbang. Seringkali perempuan harus menekan gaya kepemimpinannya / pengambilan keputusan di rumah demi menghargai suami. Seringkali perempuan harus mengatur waktunya atau mengurangi aktifitas untuk networking di luar jam kantor demi meluangkan waktu lebih banyak untuk anak-anak. Bahkan perempuan seringkali mengorbankan ‘me time’ nya atau hobinya demi kepentingan keluarga. Padahal perempuan itu juga manusia biasa yang membutuhkan aktualisasi diri, ia juga berhak berperan menjadi dirinya sendiri – bukan menjadi istri, ibu, pemimpin di kantor, manajer rumah tangga, dan putri kesayangan orang tuanya. Perempuan juga tidak mau kehilangan dirinya sendiri.

Buat para pria yang membaca tulisan ini, ketahuilah sebelum Anda menikahi perempuan yang kini menjadi istri Anda. Dia adalah seorang gadis yang memiliki impian, cita-cita, hobi, atau talenta yang jika dikembangkan lebih lanjut tentu dia akan menjadi manusia yang mencapai aktualisasi dirinya secara maksimal. Namun apakah setelah menikah apalagi memiliki anak, apakah perempuan itu masih bisa mencapai impiannya, melakukan hobi yang disukainya, mengembangkan talenta yang ia miliki sampai maksimal? atau malahan semuanya itu sirna terkubur oleh tanggung jawab dan multi peran yang harus ia mainkan dengan seimbang? atau bahkan ia kehilangan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri atau mendapatkan aktualisasi diri yang membuatnya bahagia? Apakah Anda sebagai pasangan memberikan dorongan, dukungan, dan pengakuan terhadap istri Anda terhadap hal-hal yang bisa membuat ia bangga dengan dirinya atau bangga dengan hasil kerjanya? Recognition (pengakuan) itu ditunjukkan, diucapkan, dan bahkan dituliskan lho. Perempuan perlu mendengar dan melihatnya

Buat para perempuan di luar sana, ketahuilah bahwa setiap manusia diberikan talenta yang perlu dikembangkan, bahwa kita membutuhkan recognition (pengakuan / penghargaan), kita membutuhkan aktualisasi diri yang membuat kita bisa bangga dengan diri sendiri. Bejana yang penuh akan bisa terus memberi. Artinya jika sebagai bejana kita memberikan diri kita, tenaga dan waktu kita terus menerus tanpa kita sendiri diisi, suatu saat bejana itu akan kosong, kering, habis. Sebagai perempuan, apakah pujian dari keluarga tentang masakan Anda yang enak sudah cukup untuk Anda? atau Anda punya talenta lain membuat kue yang bisa dijual dan menghasilkan uang jajan untuk diri Anda sendiri? atau Anda punya talenta melukis atau bermain musik seperti Ibu Veronica Tan yang akhirnya bisa membuat konser amal atau sekedar bermain di panggung untuk kebahagiaan batin? Jika Anda merasa bejana Anda mulai kering, cari dan temukan suatu bentuk aktifitas yang bisa menjadi sumber aktualisasi diri Anda, segera isi bejana Anda dengan sesuatu. Ada yang mulai ikut marathon atau naik sepeda, selain sehat, memicu hormon endorphin yang menghilangkan stress dan sakit. Ada yang ikut kelompok pengajian, ada yang ikut komsel atau bible study, ada yang menulis, ada yang ikut kursus masak, ada yang ikut arisan, ada yang ikut multi level marketing, ada yang jadi aktivis sosial, ada juga yang jadi agen asuransi.

Nah, karena setiap perempuan itu multifaset jangan biarkan sisi lainnya dari perempuan ini tertekan dan sirna melainkan berikan kesempatan, berikan semangat, dan dukung perempuan untuk mengembangkan sisi-sisi lainnya yang terpendam sekian lama agar mereka bisa mengaktualisasikan dirinya dan meraih kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Pernikahan adalah kesepakatan dua pihak untuk menjalani hidup bersama tetapi bukan untuk meleburkan dirinya 100%. Kedua pihak berjalan dan bertemu di titik tengah, artinya minimal masih ada 50% dari dirinya atau kepribadiannya masing-masing yang perlu dihargai, dikembangkan, dan dipertahankan.

Leave a comment